Kali ini saya akan membahas tentang makanan khas Indonesia.
Tetapi hanya dua dari sekian banyak makanan khas Indonesia yang saya angkat di
tulisan ini karena kedua makanan tersebut adalah maknan kesukaan saya. Ya, rending
dan pempek adalah makanan yang sangat lezat menurut saya. Jadi mari kita simak
tulisan dibawah yang bersumber dari clear-myblog.blogspot.co.id.
Rendang. Siapa yang tidak kenal dengan kuliner
fenomenal khas Indonesia satu ini. Rasanya yang sangat lezat membuat namanya
dikenal hingga berbagai belahan dunia. Rendang
(bahasa Minang: Randang)
adalah salah satu masakan tradisional Minangkabau yang menggunakan daging dan santan kelapa sebagai
bahan utama dengan kandungan bumburempah-rempah yang kaya. Masakan
dengan citarasa yang pedas ini digemari oleh seluruh kalangan masyarakat, dan
dapat ditemukan di seluruh Rumah Makan
Padang di Indonesia.
Rendang adalah masakan yang mengandung bumbu rempah
yang kaya. Selain bahan dasar daging, rendang menggunakan santan kelapa (karambia),
dan campuran dari berbagai bumbu khas yang dihaluskan di antaranya cabai (lado), serai, lengkuas, kunyit, jahe, bawang putih,bawang merah dan
aneka bumbu lainnya
yang biasanya disebut sebagai pemasak.
Keunikan rendang adalah penggunaan bumbu-bumbu alami, yang bersifat antiseptik
dan membunuh bakteri patogen sehingga bersifat sebagai bahan pengawet alami.
Bawang putih, bawang merah, jahe, dan lengkuas diketahui memiliki aktivitas
antimikroba yang kuat.[2] Tidak
mengherankan jika rendang dapat disimpan satu minggu hingga empat minggu.
Proses memasak rendang asli dapat menghabiskan waktu
berjam-jam (biasanya sekitar empat jam), karena itulah memasak rendang
memerlukan waktu dan kesabaran.[3] Potongan
daging dimasak bersama bumbu dan santan dalam panas api yang tepat, diaduk
pelan-pelan hingga santan dan bumbu terserap daging.[4] Setelah
mendidih, apinya dikecilkan dan terus diaduk hingga santan mengental dan
menjadi kering. Memasak rendang harus sabar dan telaten ditunggui, senantiasa
dengan hati-hati dibolak-balik agar santan mengering dan bumbu terserap
sempurna, tanpa menghanguskan atau menghancurkan daging. Proses memasak ini
dikenal dalam seni kuliner modern dengan istilah 'karamelisasi'. Karena
menggunakan banyak jenis bumbu, rendang dikenal memiliki citarasa yang kompleks
dan unik.
Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minang Sumatera Barat,[5] yaitu musyawarah dan mufakat, yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang, yaitu:
1.
Dagiang (daging sapi),
merupakan lambang dari "Niniak Mamak" (para pemimpin Suku
adat)
2.
Karambia (kelapa), merupakan
lambang "Cadiak Pandai" (kaum Intelektual)
3.
Lado (cabai), merupakan
lambang "Alim Ulama" yang pedas, tegas untuk mengajarkan syariat
agama
4.
Pemasak (bumbu), merupakan
lambang dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.
Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan
yang wajib disajikan dalam setiap perhelatan istimewa, seperti berbagai upacara adat
Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan.
Dalam tradisi Melayu, baik di Riau, Jambi, Medan atau Semenanjung Malaya, rendang adalah hidangan istimewa yang dihidangkan dalam kenduri khitanan, ulang tahun, pernikahan,barzanji, atau perhelatan keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban.
Dalam tradisi Melayu, baik di Riau, Jambi, Medan atau Semenanjung Malaya, rendang adalah hidangan istimewa yang dihidangkan dalam kenduri khitanan, ulang tahun, pernikahan,barzanji, atau perhelatan keagamaan, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban.
Pempek
Pempek Palembang, salah satu
makanan tradisional dari Sumatra Selatan yang terbuat dari ikan dan
tepung sagu ini sudah populer di Indonesia. Rasanya yang kenyal gurih dengan
saus yang asam pedas memang nikmat untuk disantap. Dulunya Pempek Palembang
dibuat dari daging ikan Belida yang diambil dari sungai Musi yang mempunyai
rasa dan aroma lebih gurih, karena ikan Belida sulit didapat serta mahal maka
dipakai daging ikan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa
yang tetap gurih. juga ikan air tawar lainnya seperti ikan putak, toman, dan
bujuk. Selain itu sekarang juga menggunakan jenis ikan laut seperti tenggiri,
kakap merah, parang-parang, ekor kuning.
Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam
kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air
yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat
pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar
pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis
bagi yang tidak menyukai pedas. Cuko dapat melindungi gigi dari karies
(kerusakan lapisan email dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah
pempek biasanya terdapat 9-13 ppm fluor. satu pelengkap dalam menyantap makanan
berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.
Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal
selam", yaitu telur ayam
yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga
yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama
"ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda
rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa ditemukan dengan sangat mudah di
seantero Kota Palembang. Pempek dijual dimana-mana di Palembang, ada yang
menjual di restoran, ada yang dipinggir jalan, dan juga ada yang dipikul.
Disemua kantin sekolah/tempat kerja/kampus pasti ada yang menjual pempek. Tahun
1980-an, penjual pempek biasa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil
berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan makanannya.





