kali
ini saya akan membahas tentang toleransi. Kalau menurut saya toleransi itu
ialah sikap menghargai orang lain untuk mempunyai pendapat, keyakinan,
pendirian yang berbeda. Tetapi karena saya muslim jadi harus menerapkan
toleransi berdasarkan agama ISLAM. Berikut artikel referensi yang secaragaris
besar saya setuju.
PENGERTIAN
TOLERANSI
Toleransi
adalah sikap tenggang rasa, menghargai, membiarkan, atau membolehkan oran lain untuk
berpendapat atau berpendirian yang berbeda dengan dirinya.
Toleransi
bahasa Arabnya adalah tasamuh yang
artinya sama-sama berlaku baik, lemah lembut, dan saling pemaaf. Dalam
pengertian umum, toleransi adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan.
B.
TOLERANSI
DALAM ISLAM
Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap
sinkretis. Pemahaman yang sinkretis dalam toleransi beragama merupakan
kesalahan dalam memahami arti tasâmuh yang berarti menghargai, yang
dapat mengakibat-kan pencampuran antar yang hak dan yang batil (talbisu
al-haq bi al-bâtil), karena sikap sinkretis adalah sikap yang menganggap
semua agama sama. Sementara sikap toleransi dalam Islam adalah sikap menghargai
dan menghormati keyakinan dan agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau mensederajatkannya
dengan keyakinan Islam itu sendiri.
Sikap toleransi dalam Islam yang berhubungan dengan
akidah sangat jelas yaitu ketika Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah
SAW. untuk mengajak para Ahl al-Kitab untuk hanya menyembah dan tidak
menye-kutukan Allah swt.
C. TOLERANSI
ANTAR UMAT BERAGAMA
1. Kaitan toleransi dengan persaudaraan
sesama Muslim
Berkaitan dengan hubungan toleransi dengan
persaudaraan sesama Muslim, dalam hal ini Allah SWT. Berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
[Orang-orang beriman itu
sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara
kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat].
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa orang-orang
mukmin bersaudara dan memerintahkan untuk melakukan islah
(mendamaikannya untuk perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi
kesalahpahaman di antara mereka atau kelompok umat Islam.
Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum,
terlebih dahulu dengan mensikapi perbedaan (pendapat) yang (mungkin)
terjadi pada keluarga dan saudara sesama muslim. Sikap toleransi dimulai
dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya
perbedaan dan menyadari bahwa semua adalah bersaudara, maka akan timbul rasa
kasih sayang, saling pengertian yang pada akhirnya akan bermuara pada sikap
toleran. Dalam konteks pengamalan agama, Al-Qur’an secara tegas memerintahkan
orang-orang mukmin untuk kembali kepada Allah SWT. dan sunnah Rasulullah
SAW..
2. Kaitan toleransi dengan mu’amalah
antar umat beragama
Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai sebagai
suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain dengan
memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah)
masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan, baik untuk beribadah maupun
tidak beribadah dari satu pihak ke pihak lain. Sebagai implementasinya dalam
praktek kehidupan sosial dapat dimulai dari sikap bertetangga, karena toleransi
yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam
kehidupan sehari-hari.
Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari
hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita atau tidak.
Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati, saling
memulia-kan dan saling tolong-menolong. Hal ini telah dicontohkan oleh
Rasulullah SAW. saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul, lewatlah rombongan
orang Yahudi yang mengantar jenazah. Nabi Muhammad saw. langsung berdiri
memberikan penghormatan. Seorang sahabat berkata: “Bukankah mereka orang
Yahudi, ya Rasul?” Nabi saw.. menjawab “Ya, tapi mereka manusia juga”. Hadis
ini hendak menjelaskan bahwa, bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah
urusan manusia, melainkan urusan Allah SWT. dan tidak ada kompromi serta sikap
toleran di dalamnya. Sedangkan urusan mu’amalah antar sesama tetap dipelihara
dengan baik dan harmonis.
Saat Umar bin Khattab ra. memegang amanah sebagai
khalifah, ada sebuah kisah dari banyak teladan beliau tentang toleransi, yaitu
saat Islam berhasil membebaskan Jerusalem dari penguasa Byzantium pada Februari
638 M. Tidak ada kekerasan yang terjadi dalam ‘penaklukan’ ini. Singkat
cerita, penguasa Jerusalem saat itu, Patriarch Sophorinus, “menyerahkan
kunci” kota dengan begitu saja. Suatu ketika, khalifah Umar dan Patriarch
Sophorinus menginspeksi gereja tua bernama Holy Sepulchre. Saat tiba
waktu shalat, beliau ditawari Sophronius shalat di dalam gereja itu. Umar
menolak seraya berkata, “Jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya
akan menganggap ini milik mereka hanya karena saya pernah shalat di situ.”
Beliau kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Di tempat batu
jatuh itulah beliau kemudian shalat. Umar kemudian menjamin bahwa gereja
itu tidak akan diambil atau dirusak sampai kapan pun dan tetap terbuka untuk
peribadatan umat Nasrani.
3. Tidak ada toleransi dalam akidah
Mengenai sistem keyakinan dan agama yang berbeda-beda,
Al-Qur’an menegaskan:
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
[Katakanlah: "Hai orang-orang
kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah
Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu, dan untukku agamaku].
Latar belakang turunnya ayat ini (asbấb an-nuzủl),
ketika kaum kafir Quraisy berusaha membujuk Rasulullah saw., "Sekiranya
engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami
akan mengikuti agamamu selama setahun pula." Setelah Rasulullah SAW.
membacakan ayat ini kepada mereka maka berputus-asalah kaum kafir Quraisy,
sejak itu semakin keras sikap permusuhan mereka kepada Rasulullah SAW.. Dua
kali Allah swt. memperingatkan Rasulullah SAW. : "Aku tidak akan menyembah
apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah Tuhan yang aku sembah."
Artinya, umat Islam sama sekali tidak boleh melakukan peribadatan yang diadakan
oleh non-muslim, dalam bentuk apapun.
Ayat ini menegaskan, bahwa semua manusia menganut
agama tunggal merupakan suatu keniscayaan. Sebaliknya, tidak mungkin manusia
meng-anut beberapa agama dalam waktu yang sama atau mengamalkan ajaran dari
berbagai agama secara simultan. Oleh sebab itu, Al-Qu’ran menegaskan bahwa umat
Islam tetap berpegang teguh pada sistem ke-Esaan Allah secara mutlak, sedangkan
orang kafir pada ajaran ketuhanan yang ditetapkannya sendiri.
Dalam kondisi sekarang, maka melakukan do'a bersama
orang-orang non-muslim (istighasah), menghadiri perayaan Natal, mengikuti
upacara pernikahan mereka atau mengikuti pemakaman mereka merupakan cakupan
dari surah Al-Kafirun. Semua hal itu tidak boleh diikuti umat Islam, karena
berhubungan dengan akidah dan ibadah. Orang-orang non-muslim juga tidak ada
gunanya mengikuti peribadatan kaum muslimin, karena sama sekali tidak ada
nilainya dihadapan Allah SWT.
Dalam memahami toleransi, umat Islam tidak boleh salah
kaprah. Toleransi terhadap non-muslim hanya boleh dalam aspek muamalah
(perdagangan, industri, kesehatan, pendidikan, sosial, dan lain-lain), tetapi
tidak dalam hal akidah dan ibadah. Islam mengakui adanya perbedaan, tetapi
tidak boleh dipaksakan agar sama sesuatu yang jelas-jelas berbeda.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW. merupakan
teladan yang baik dalam implementasi toleransi beragama dengan merangkul semua
etnis, dan apapun warna kulit dan kebangsaannya. Kebersamaan merupakan salah
satu prinsip yang diutamakan, yang terkait dengan karakter moderasi dalam
Islam, di mana Allah swt berkeinginan mewujudkan masyarakat Islam yang moderat,
sebagaimana firman-Nya :
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِّتَكُونُواْ
شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً
[Dan demikian (pula) Kami telah
menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi
saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas
(perbuatan) kamu].
D.
PENERAPAN
TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
1. Tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain kerena tidak
dibenarkan oleh agama dan akal sehat ;
2. Sabar dalam menghadapi sikap orang-orang yang mendustakan
Islam, sebagaimana rasul terdahulu ;
3. Bersahaja dalam melaksanakan dakwah, tidak mengikuti jalan
pikiran objek dakwah ;
4. Bebas menjalin hubungan dengan non muslim selama tidak
menyangkut masalah akidah dan ibadah.
E.
HIKMAH
BERTOLERANSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
1. Menghargai kepada sesama ciptaan
Allah SWT. ;
2. Menghindari terjadinya perpecahan ;
3. Memperkokoh silaturahmi dan menerima
perbedaan ;
4. Tenggang rasa dan suka menolong
kepada orang lain ;
5. Menciptakan kehidupan masyarakat
yang aman dan damai
Sumber : http://khalissofi.blogspot.co.id/2014/10/tugas-makalah-pai-toleransi.html






0 komentar:
Posting Komentar